Perpeloncoan Anak SMA Kendari

Empat Siswa SMAN 4 Kendari yang Diduga Aniaya Juniornya Diberi Sanksi Skors Selama Tiga Hari

Kasus dugaan penganiayaan terhadap ARP (15), siswa SMA Negeri 4 Kendari oleh empat orang seniornya kini makin berlanjut.

Penulis: Laode Ari | Editor: Sitti Nurmalasari
Istimewa
Kepala SMAN 4 Kendari, Liyu saat ditemui TribunnewsSultra.com, Kamis (24/11/2022). 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kasus dugaan penganiayaan terhadap ARP (15), siswa SMA Negeri 4 Kendari oleh empat orang seniornya kini makin berlanjut.

ARP diduga ditampar oleh empat orang seniornya secara bergiliran saat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Komite Keamanan Sekolah (K2S).

Insiden tersebut terjadi pada Minggu (20/11/2022) di SMAN 4 Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Namun, dugaan penganiayaan terhadap korban baru terungkap setelah keluarganya memviralkan video ARP.

Imbas kejadian ini, pihak sekolah kemudian mengambil keputusan dengan menskors sementara empat siswa yang diduga melakukan penganiayaan.

Baca juga: Dikbud Sultra Akan Panggil Pihak SMAN 4 Kendari Atas Kasus Video Viral Perpeloncoan Siswa di Sekolah

"Untuk langkah awal kita istirahatkan dulu keempat siswa tersebut," ucap Kepala SMAN 4 Kendari, Liyu kepada TribunnewsSultra.com, Kamis (24/11/2022).

Liyu menjelaskan keputusan mengistirahatkan sementara keempat siswanya, sembari mencari penyebab atau kronologi pasti kejadian tersebut.

Kata dia, pihak sekolah saat ini juga melakukan mediasi antara keluarga korban dengan terduga pelaku penganiayaan.

"Jadi kita belum bisa memberikan tindakan karena sementara kami juga mediasi dengan korban," ujarnya.

Menurutnya, proses mediasi ini juga memberikan pembelajaran dan pemahaman kepada siswa dengan adanya kejadian tersebut.

"Jadi kalau pun ada sanksi, itu bukan hukuman tteapi pendidikan buat mereka (pelaku dugaan penganiayaan)," kata Liyu.

SMAN 4 Kendari juga masih menunggu keterangan siswa yang jadi korban penganiayaan karena usai videonya viral hingga kini ARP belum masuk sekolah.

Liyu menambahkan dirinya menyesali kejadian tersebut, karena korban tidak melaporkan tindakan yang dialaminya setelah kejadian.

Apalagi Diklat Komite Keamanan Sekolah sudah berlangsung selama tiga hari yakni 18-20 November 2022.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved