Rektor Unila Terima Suap Rp 4,4 Miliar dari Rekrutmen Maba hingga Jadi Tersangka KPK Kini Minta Maaf

Rektor Unila Karomani minta maaf setelah ditetapkan KPK menjadi tersangka kasus suap penerimaan calon mahasiswa baru jalur mandiri tahun ajaran 2022.

Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ifa Nabila
YouTube Kompas TV
Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani saat keluar dari Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Minggu (21/8/2022). Karomani kini telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2022 hingga total nominal Rp 4,4 miliar. Atas kasus korupsi di lingkungan PTN yang menjeratnya itu, Karomani pun meminta maaf. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani meminta maaf atas kasus suap penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2022 yang menjeratnya.

Karomani bersama 7 orang lainnya sebelumnya ditangkap KPK dalam serangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di sejumlah daerah di Lampung, Bandung, dan Bali pada Jumat (19/8/2022) malam lalu.

Kini Karomani telah resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus suap penerimaan mahasiswa baru Unila.

Atas kasus korupsi di lingkungan PTN yang menjeratnya itu, Karomani mengucapkan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia.

Baca juga: Sosok Rektor Universitas Negeri di Lampung Terjaring OTT KPK Diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi?

"Saya minta maaf kepada masyarakat pendidikan Indonesia," ujar Karomani saat keluar dari Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Minggu (21/8/2022) seperti dilansir TribunnewsSultra.com dari kanal YouTube KompasTV.

Karomani diketahui mematok biaya sebesar Rp 100 juta hingga Rp 350 juta untuk peserta seleksi mandiri Unila TA 2022 yang ingin diluluskan.

Uang tersebut tidak termasuk biaya pokok kuliah yang ditentukan pihak kampus Unila.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron pada konferensi pers terkait dugaan kasus suap penerimaan calon mahasiswa baru Unila TA 2022 di Gedung KPK pada Minggu kemarin.

Baca juga: 3 Tahun Jadi Buron KPK, Surya Darmadi Mau Pulang ke Indonesia gegara Disuruh Pengacaranya?

"Terkait besaran nominal uang yang disepakati antara KRM diduga jumlahnya bervariasi," ujar Ghufron, Minggu seperti dilansir TribunnewsSultra.com dari akun Instagram resmi KPK @official.kpk.

"Berkisar antara Rp 100 juta sampai Rp 350 juta untuk setiap orangtua peserta seleksi yang ini diluluskan," sambungnya.

Ghufron mengatakan bahwa Karomani diduga telah memerintahkan untuk mengalihkan uang suap dengan total Rp 4,4 miliar tersebut menjadi bentuk tabungan, deposito, hingga emas batangan.

Baca juga: KPK Beberkan Alur Suap Eks Kepala BPK Sulawesi Tenggara, Terima 2,5 M dari Sekretaris PUTR Sulsel

"Diduga atas perintah KRM, uang tersebut telah dialihkan untuk menjadi tabungan, deposito, emas batangan, dan juga masih tersimpan dalam bentuk uang tunai yang totalnya senilai Rp 4,4 miliar," papar Ghufron.

Adapun dalam kasus suap penerimaan mahasiswa baru ini, KPK telah menetapkan Karomani, Heryandi, Andi, dan Muhammad Basri sebagai tersangka.

(TribunnewsSultra.com/Nina Yuniar)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved