PLN UPDK Kendari

Rumah Edukasi Konservasi Kima di Toli-Toli Konawe Sulawesi Tenggara Diresmikan PLN UPDK Kendari

PLN UPDK Kendari meresmikan Rumah Edukasi Konservasi Kima di Desa Toli-Toli, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Sitti Nurmalasari
TribunnewsSultra.com/ Muh Ridwan Kadir
PLN UPDK Kendari meresmikan rumah edukasi konservasi kima di Desa Toli-Toli, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Keberadaan rumah edukasi konservasi ini menjadi tempat untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang biota laut tersebut. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - PLN UPDK Kendari meresmikan rumah edukasi konservasi kima di Desa Toli-Toli, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Keberadaan rumah edukasi konservasi ini menjadi tempat untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang biota laut tersebut.

Karena biota laut tersebut kini sudah terancam punah, sebab banyaknya orang yang mengambil tanpa melestarikan sehingga jumlahnya kian berkurang.

Untuk itu, keberadaan rumah edukasi konservasi penting untuk menjaga biota laut ini dari ancaman kepunahan.

Manager PT PLN UPDK Kendari, Muhammad Rusli Sain mengatakan dengan peresmian rumah konservasi taman laut kima ini dapat memberikan edukasi ke masyarakat.

Baca juga: PLN UPDK Kendari Kerja Sama CV Istacon Jaya, Manfaatkan Limbah Abu Batu Bara untuk Buat Batako

"Iya, dengan adanya rumah edukasi konservasi ini bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hewan laut yaitu kima," jelasnya, Selasa (16/8/2022).

Lanjutnya, dengan melihat jumlah kima yang terus berkurang, maka perlu perhatian bersama demi menjaga kelestarian kima agar tidak punah utamanya di wilayah Sultra.

Sementara itu, Ketua Tim Konservasi Kima, Habib Nadjar Buduha mengatakan kima merupakan salah satu kerang terbesar dari seluruh jenis kerang di lautan yang vital bagi ekosistem laut.

Hal tersebut perlu diperhatikan dengan serius oleh masyarakat mengingat keberadaan kimi hampir atau terancam punah.

Katanya, terdapat 10 jenis kima yang terdata di dunia saat ini, pada tahun 2011 silam ditemukan kima yang mempunyai spesifikasi berbeda dengan spesies di Labengki.

Baca juga: PLN UPDK Kendari Latih Warga Bikin Batako dan Paving Block Pakai Limbah Abu Batu Bara

Jenis ini biasa disebut kimaboe atau kima air, walau memang berada di Labengki, tetapi konservasinya berada di Toli-Toli.

"Konservasi dibagi menjadi dua yaitu In Situ dan Ex Situ," ujar Ketua Tim Konservasi Kima, Habib Nadjar Buduha.

In Situ adalah konservasi tempat atau konservasi sumber daya genetik pada populasi alami tumbuhan ataupun satwa pada habitat aslinya yang berada Labengki.

Ex Situ adalah bentuk konservasi flora, fauna dan ekosistem di habitat yang berbeda seperti saat ini berada di Desa Toli-Toli.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved