UHO Kendari

2 Wilayah di Kendari Sultra Alami Suhu Permukaan Kurang Nyaman, Akademisi UHO Sebut Ini Penyebabnya

Akademisi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo, Nurgiantoro menyebut dua wilayah di Kendari alami suhu permukaan kurang nyaman.

Penulis: Husni Husein | Editor: Sitti Nurmalasari
Istimewa
Akademisi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo (FTIK UHO), Nurgiantoro. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Akademisi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo (FTIK UHO), Nurgiantoro menyebut dua wilayah di Kendari alami suhu permukaan kurang nyaman.

Akademisi Bidang Ilmu Geomatika UHO ini mengatakan dua wilayah tersebut adalah Kecamatan Wua-Wua dan Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Nurgiantoro menerangkan, ini disebabkan kedap air dan ruang terbuka hijau serta perairan yang mengalami pengusutan di daerah ini akibat pemukiman dan pembangunan.

Ia mengungkapkan, terlebih pemukiman warga di daerah ini lebih memilih merenovasi halamannya menjadi bangunan bermaterial rendah albedo yang menyimpan sinar matahari.

"Jika dibandingkan di daerah kota besar lainnya di Indonesia, misalnya di Surabaya atau Jakarta itu mereka sudah gencar mengampanyekan perubahan iklim," katanya pada Senin (1/8/2022).

Baca juga: Dosen dan Mahasiswa UHO Edukasi Rekayasa Vegetasi ke Warga Poasia Kendari Sulawesi Tenggara

Kata dia, meski tidak separah kota metropolitan di daerah Indonesia lain, tetapi jika pembangunan tetap menyampingkan lahan hijau bakal menjadi kota metropolitan yang dimaksud.

"Jumlah penduduknya, area terbangunnya, tetapi ancaman itu pasti ada karena perkotaan akan terus didatangi masyarakat," tuturnya.

Nurgiantoro menuturkan salah satunya cara ialah pemukiman wilayah Kecamatan Wua-Wua dan Kecamatan Kadia ini dapat menerapkan green space secara vertikal.

Katanya, untuk mengurangi suhu panas yang menyengat ini juga dapat dilakukan dengan mengubah cat warna rumah menjadi warna menyerap panas seperti hijau hutan.

"Hanya saja tidak seefesien seperti kita melalukan rekayasa vegetasi tanaman edible landscape," ungkapnya.

Baca juga: Inovasi Mahasiswa KKN Unilaki Konawe, Pepaya Dibuat Stik dan Dodol, Diajarkan ke Warga Desa Puundoho

Nurgiantoro mengatakan, selain dapat mereduksi suhu juga untuk menghambat laju run off atau aliran air penyebab banjir jika masyarakat paham akan pentingnya vegetasi tanaman.

"Kenapa terjadi banjir karena run off itu tidak terhambat, begitu hujan langsung los. Jadi ketika lahan bervegetasi laju run off-nya pasti terhambat," jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Husni Husein)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved