Berita Sulawesi Tenggara

KPU Sultra Sebut Tiga Daerah Jumlah DPT Menurun Drastis, Terindikasi Punya Pemilih Ganda

Terjadi penurunan jumlah pemilih sesuai KPU Sultra merekap daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) semester 1 2022 hingga periode Juni.

Penulis: Laode Ari | Editor: Muhammad Israjab
Istimewa
Komisioner KPU Sulawesi Tenggara, Muhammad Nato Al Haq. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat ada tiga wilayan yang mengalami penurunan jumlah pemilih.

Bahkan jumlah penurunan tersebut lebih besar dari daftar pemilih tetap (DPT) pada Pemilu 2019 lalu.

Tiga daerah itu yakni Kabupaten Wakatobi, Buton Tengah (Buteng), dan Muna.

Baca juga: Rekrut Anggota Badan Ad Hoc Pemilu 2024, KPU Bakal Tambah Honor Panitia Pemungutan Suara di Daerah

Penurunan jumlah pemilih sesuai KPU Sultra merekap daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB) semester 1 2022 hingga periode Juni.

Untuk Kabupaten Wakatobi jumlah Daftar Pemlih tetap (DPT) di pemilu 2019 sebesar 79,054. Sementara pada DPB I 2022 jumlahnya menjadi 72,912 .

"Untuk wakatobi mengalami penurunan drastis jumlah pemilihnya sebesar 7,77 persen atau minus 6,142 dibanding 2019," kata Komisioner KPU Sultra, Muhammad Nato Al Haq, Jumat (08/7/2022).

Sementara untuk Buteng berjumlah 77,593 pemilih di 2019, menjadi 73,262 pada DPB 2022. Atau menurun berkurang sebesar 4,331 (5,58) persen.

"Sementara di Muna hanya turun 0, 05 persen atau berkurang 72 dari DPT Pemilu 2019 sebanyak 145, 594 pemilih," urainya.

Nato menjelaskan, penyebab tiga daerah tersebut menurun jumlah daftar pemilih karena adanya pencoretan pemilih yang tidak memenuhi syarat (TMS) yang dilakukan KPU.

Baca juga: Cara Cek Data Pemilih Pemilu 2024 Lewat Aplikasi Lindungi Hakmu KPU, Silakan Download di Play Store

"Ada pemilih yang sudah meninggal dunia, kemudian ada menjadi anggota TNI/Polri, sampai ada pemillih yang tidak lagi terdaftar sebagai penduduk," jelasnya.

Selain temuan lain dari KPU, bahwa di tiga daerah itu adanya pemilih ganda karena memiliki dua keterangan domilisi dan KTP yang berbeda.

"Jumlah pemilih dengan data ganda ini tidak dilakukan pencoretan saat didata di Dukcapil, sehingga mereka punya 2 KTP berbeda saat pemilu 2019," ujar Nato.

Nato menjabarkan, selain kurangnya pengecekan data kependudukan di Pemilu 2019, indikasi adanya data ganda juga karena faktor lain seperti adanya pekerja dari luar daerah.

"Seperti di daerah pertambangan, banyak juga pekerja dari luar Sultra, membuat KTP, tapi data kependudukan di daerah asalnya tidak dicabut, jadinya bisa memiliki dua KTP,"  urainya.

Terakhir, adanya penurunan jumlah pemilih karena KPU mencoret pemilih baru yang belum melakukan rekam KTP elektronik walaupun sudah memenuhi syarat memilih. (*)

(TribunnewsSultra.com/La Ode Ari)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved