Berita Sulawesi Tenggara

Sosok Bakring, Pria Paru Baya di Soropia Konawe Jaga Ekosistim Pesisir Desa hingga Puluhan Tahun

Ia adalah Bakring, pria kelahiran Tahun 1963 silam kini hidup sebatang kara sebagai nelayan Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe, Sultra.

Penulis: Husni Husein | Editor: Muhammad Israjab
(Husni Husein/TribunnewsSultra.com)
Bakring, pria kelahiran Tahun 1963 silam yang kini hidup sebatang kara sebagai nelayan di Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe, Sultra 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Inilah kisah inspiratif pria paru baya di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mendedikasikan hidupnya puluhan tahun menjaga ekosistem pesisir desanya.

Ia adalah Bakring, pria kelahiran Tahun 1963 silam kini hidup sebatang kara sebagai nelayan Desa Tapulaga Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe, Sultra.

Tanpa meminta imbalan dari pemerintah, Bakring setiap harinya selama kurang lebih 10 tahun menyisir pantai dan laut sekitar desanya untuk menanam bibit Mangrove, melestarikan lamun, dan merawatnya.

Hal itu dilakukan pria tamatan SMA ini demi keberlangsungan ekosistem pesisir tetap terjaga yang dirasanya harus berkembang baik secara terus-menerus.

Baca juga: Sosok Pak Ribut, Guru SD Viral gegara Bahas Kaum Sodom Bareng Murid: Ternyata Punya Bisnis Sukses

"Saya pikir setelah saya meninggal, apa yang saya akan tinggalkan untuk dunia ini. Kenang-kenangan apa yang saya tinggalkan pada bumi saat saya meninggal nanti," kata Bakring.

Bakring berbagi cerita dan pengalaman saat ditemui di sela-sela aktivitasnya ikut menanam bibit Mangrove dalan rangka Peringati Hari Bumi Sedunia.

Kegiatan ini inisiasi Forum Pemuda Peduli Lingkungan (FPPL) dan Pt Antam menggandeng Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) pada Selasa (5/4/2022).

"Kemarin saya mencanangkan diri saya untuk menanam sekian ratus pohon, dengan usia saya saat ini berapa pohon yang bisa saya tanam hingga akhir hayat saya," katanya.

Bakring, mengungkapkan kecintaannya terhadap lingkungan membuatnya tidak pernah ada kata letih dan tetap semangat menjaga kelestarian alam meski sejumlah kendala terus menghampiri.

Baca juga: Kisah Pasutri di Kolaka Utara yang Punya 16 Anak, Dipertemukan Saat Nikah Massal

Kata dia, misalnya pemahaman pentingnya kebersihan pesisir dan laut yang masih kurang pada masyarakat setempat serta hambatan alam yang juga kerap tak ia duga.

"Pemahaman laut yang masih kurang pada masyarakat desa, serta arus dan gelombang laut yang terkadang tidak dapat diprediksi dan tidak bisa dikendalikan," tuturnya.

Meski demikian, ajakan terus ia upayakan untuk bersama-sama ikut melestarikan lingkungan desanya, walau penolakan juga tidak terhitung jumlahnya ia terima.

"Persoalan lingkungan ialah persoalan hati nurani, dan terus saya coba walau hari ini saya sendiri besok akan saya coba lagi karena apa yang saya lakukan untuk keberlanjutan hidup saya dan kita semua," jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Husni Husein)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved