Berita Sulawesi Tenggara

Tanaman Pangan hingga Perikanan Sebabkan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tenggara Turun 0,28 Persen

jika dilihat dari hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada kabupaten di provinsi Sulawesi Tenggara mengalami penurunan yaitu dari 100,79 ke 100,50.

Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Muhammad Israjab
Handover
BPS Sultra mencatat Nilai Tukar Petani atau NTP Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan sebesar 0,28. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Nilai Tukar Petani atau NTP Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan sebesar 0,28 persen.

Hal itu berdasarkan catatan dari Badan Pusat Statistik atau BPS Sulawesi Tenggara pada Februari 2022.

Dari catatan itu, jika dilihat dari hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada kabupaten di provinsi Sulawesi Tenggara mengalami penurunan yaitu dari 100,79 menjadi 100,50.

Penurunan NTP pada Februari 2022 disebabkan oleh penurunan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Provinsi Sultra, Surianti Toar mengatakan tak hanya itu biaya produksi dan penambahan barang modal yang juga mengalami penurunan.

Baca juga: Hasil Panen Padi di Sulawesi Tenggara 530 Ribu Ton hingga Desember 2021, Konawe Produksi Tertinggi

"Penurunan NTP Februari 2022 dipengaruhi oleh turunnya NTP di semua subsektor pertanian, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,21 persen, subsektor tanaman hortikultura sebesar 1,65 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,06 persen, subsektor peternakan sebesar 0,16 persen, dan subsektor perikanan sebesar 0,67 persen," ucapnya, Selasa (1/3/2022).

Lebih lanjut, Surianti menjelaskan penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,52 persen, lebih tinggi dari penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,24 persen.

Kata dia Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).

"NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi,"imbuhnya.

NTP masing-masing subsektor tercatat sebagai berikut, subsektor Tanaman Pangan (NTPP) 97,86, Subsektor Hortikultura (NTPH) 106,88, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 98,93.

Baca juga: BPS Sultra Catat Ekspor Sultra Januari 2022 Turun 27,91 Persen, Impor Sebesar 69,47 Persen

Kemudian Subsektor Peternakan (NTPT) 104,96 dan Subsektor Perikanan (NTNP) 105,07.

"Pada Februari 2022, secara nasional 22 provinsi mengalami kenaikan NTP, sedangkan 12 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP,"ucapnya.

Katanya kenaikan tertinggi tercatat di Provinsi Riau yaitu sebesar 2,50 persen, sedangkan penurunan terbesar tercatat di Provinsi Sumatera Utara sebesar 0,72 persen.

"Pada Februari 2022 terjadi penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Sulawesi Tenggara sebesar 0,35 persen yang disebabkan oleh penurunan nilai indeks pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau," pungkasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Muh Ridwan Kadir)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved