Breaking News:

Berita Sulawesi Tenggara

Pro Kontra Permendikbud Ristek Nomor 30, Ketua BEM STMIK Catur Sakti Kendari Beri Dukungan

Pro dan kontra Permendikbud Ristek nomor 30 tahun 2021 datang dari berbagai macam kalangan. Tak terkecuali pada lingkup perguruan tinggi.

Penulis: Husni Husein | Editor: Muhammad Israjab
Istimewa
Ketua BEM STMIK Catur Sakti Kendari, Abd Wahid Akhyarudin 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau Kemendikbud Ristek mengeluarkan Permendikbud Ristek nomor 30 tahun 2021 jadi pro kontra dimasyarakat khususnya mahasiswa.

Terkait polemik Permendikbud Ristek nomor 30 tahun 2021 datang dari berbagai macam kalangan. Tak terkecuali pada lingkup sivitas akademika perguruan tinggi.

Permendikbud Ristek nomor 30 tahun 2021 ini bahkan dianggap melegalkan seks bebas.

Menanggapi kebijakan Kemendikbud Ristek tersebut, Ketua BEM STMIK Catur Sakti Kendari, Abd Wahid Akhyarudin memberikan pernyataan.

Baca juga: 8 Lapak Pasar PKL di Kendari Terbakar, Dinas Damkar Kerahkan 4 Unit Mobil Pemadam

Permendikbud Ristek yang dikeluarkan Menteri Nadiem Makarim tersebut sangatlah relevan dengan banyak kasus yang terjadi saat ini di dunia perguruan tinggi. 

"Ini ada 58 Pasal isinya untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual dilingkup perguruan tinggi, menangani korban kekerasan seksual, dan menjerat pelaku kekerasan seksual pada Mahasiswi. Katanya, Selasa (16/11/2021).

Ia menyebutkan jika tak ada payung hukumnya, tindakan kekerasan seksual di lingkup kampus akan terus marak terjadi.

"Contoh banyak kasus yang terjadi di dunia kampus mengingimi bantuan pengerjaan tugas akhir ternyata sebagai balas jasanya dengan oknum berbuat hal tak senonoh," ucap Akhyar.

Baca juga: Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tuai Pro Kontra, Tanggapan Rektor Universitas Halu Oleo

Adapun kontra, Akhyar menilai hal tersebut merupakan perbedaan sudut pandang diksi kalimat Permendibud Nomor 30 Tahun 2021 itu.

"Terutama saya lihat dalam pasal 5, itu hanya terkait penulisan kalimatnya yang agak sensitif, namun sebenarnya penjelasan pasal 5 tentang kekerasan seksual harusnya memang dilampirkan  bahwa kekerasan seksual dimaksud itu seperti apa saja," tuturnya.

Ia menilai, secara keseluruhan isi Permendikbud itu mencakup tindakan kekerasan seksual relevan dengan yang ada saat ini.

"Ketika di uraikan kekerasan seksual itu ada 15 point baik dilakukan secara verbal, fisik, non fisik atau yang dilakukan melalui teknologi  dan informasi,Contoh Medsos,dan lain-lain," ucapnya.

Baca juga: Indonesia Masters Hari Ini: 10 Wakil Indonesia Berlaga Ada Perang Saudara, Kans Ginting Duel Momota

Wahid Akhyarudin menuturkan Permendikbud Ristek itu mesti didukung.

"Tentu untuk menjaga harkat dan martabat perempuan dan meminimalisir terjadinya perempuan diskriminatif yang dilecehkan oleh oknum berada didalam di perguruan tinggi itu sendiri," tutup Ahyar.

(TribunnewsSultra.com/Husni Husein)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved