Breaking News:

Berita Konawe

Akademisi Fisip Universitas Halu Oleo, Bagikan Cara Menghadapi Ancaman Keberagaman

Selain itu, Konflik politik terkait isu primordialisme budaya. Dimana, dalam sebuah daerah tidak ingin dipilih oleh suatu etnis mayoritas.

Penulis: Arman Tosepu | Editor: Muhammad Israjab
Arman Tosepu
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Halu Oleo (Fisip UHO), Dr H Sulsalman Moita saat memaparkan Potensi dan Cara Mengatasi Ancaman Keberagaman di acara deklarasi damai dan dialog di Polres Konawe, Rabu (29/9/2021). 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KONAWE - Berikut potensi dan cara mengatasi ancaman keberagaman yang dipaparkan akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Halu Oleo (Fisip UHO), Dr H Sulsalman Moita.

Sebelumnya, Sulsalman hadir sebagai narasumber di acara deklarasi damai dan dialog di Kepolisian Resor atau Polres Konawe, Rabu (29/9/2021).

Dalam paparannya, menurut Doktor ilmu Sosiologi ini menyebut berbagai macam kasus-kasus etnis, konflik agama, dan kepentingan yang saat ini masih mewarnai dinamika kehidupan politik, sosial, ekonomi Indonesia.

"Kita banyak mengalami krisis tapi Insya Allah kita bisa keluar dari krisis asal kita punya sebuah sistem nilai (Value System) yang bisa merajuk kebersamaan dalam bingkai kebinekaan," kata Sulsalman.

Pria kelahiran Unaaha 1971 silam ini menyebut terdapat 6 hal yang menjadi ancaman perpecahan atau disintegrasi bangsa.

Baca juga: PON XX Papua 2021: Tim Softball Putra Sulawesi Tenggara Maju Semifinal, Usai Kalahkan DKI Jakarta

Pertama, konflik kepentingan politik, menurutnya semakin banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan politik membuat tidak baiknya dalam pendidikan politik.

Dimana, Sulsalman bilang, sekira 70 persen pemilik suara di Indonesia mayoritas bersifat transaksional sisanya rasional.

"Jadi jangan heran aktor-aktor politik terpilih menjadi pimpinan politik malah melakukan hal yang sama karena menghabiskan biaya untuk pemilih-pemilih transaksional tadi," ujarnya.

Selain itu, Konflik politik terkait isu primordialisme budaya. Dimana, dalam sebuah daerah tidak ingin dipilih oleh suatu etnis mayoritas.

Ia mencontohkan kasus yang menjerat mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved