Breaking News:

Perspektif

Perspektif: Strategi Budaya dan Moralitas Bangsa

Catatan ringan akhir pekan Zainal Arifin Ryha, pemerhati sosial di Baubau/ mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang

Editor: Aqsa
Dok Pribadi
Zainal Arifin Ryha, pemerhati sosial di Baubau/ mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang 

Catatan ringan akhir pekan Zainal Arifin Ryha, pemerhati sosial di Baubau/ mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Pascadilantik menjadi Bupati Wakatobi tahun 2005, Hugua langsung melakukan road show ke sejumlah daerah, bertemu warga asal Wakatobi untuk sosialisasi visi misinya yg dipandang sangat cemerlang dan spektakuler saat itu dan dikenal dengan jargon: "Surga di Bawah Laut."

Daerah pertama yang dikunjungi adalah Kota Kendari.

Kebetulan saat itu saya sedang di Kendari dan ingin sekali mendengar paparannya, tapi tidak sempat, karena banyaknya agenda yang tidak mungkin ditunda.

Kesempatan baru muncul seminggu kemudian ketika Hugua mengundang warga asal Wakatobi di Baubau bertemu di Hotel Ratu Rajawali untuk menyampaikan visi misinya itu.

Saat saya tiba, acara sudah berlangsung, dan Hugua sedang disilakan moderator menyampaikan paparannya.

Baca juga: OPINI : Sikap Toleransi Untuk Indonesia Sebagai Negara Multikultural

Intinya, Hugua ingin menjadikan Wakatobi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di tanah air selain Bali dan beberapa daerah yang selama ini dikenal sebagai ikon dan menjadi tujuan dari wisatawan mancanegara, bermodalkan keindahan wisata bawah laut yang merupakan pertemuan segi tiga karang dunia.

Menurut Hugua, dengan strategi pembangunannya yang bertumpu pada jasa pariwisata itu, Wakatobi kelak akan menjadi daerah maju. tidak hanya dari sisi ekonomi tapi juga budayanya.

Kehadiran para turis manca negara nantinya, dalam pandangan Hugua akan menyebabkan terjadinya konvergensi nilai-nilai budaya Barat yang rasional, disertai etos sosial dan semangat kerja keras tanpa kenal lelah dengan kearifan lokal (local wisdom) milik kita semisal gotong royong, dan sebagainya, yang pada gilirannya akan membentuk nilai-nilai budaya konstruktif dan progresif serta senantiasa berorientasi pada kemajuan.

Pada sesi dialog, berbeda dengan para penanggap sebelumnya yang cenderung memuji habis-habisan kecemerlangan visi-misi tersebut, saya justru mengkritik kerangka berpikir Hugua yang hemat saya cacat logika (jumping to conclusion) dan cenderung menyederhanakan masalah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved