Breaking News:

Pungutan di Masjid Al Alam

Pungutan Rp5 Ribu di Masjid Al Alam Kendari: Untuk Dana Perawatan, Pemprov Sultra Cuma Bayar Listrik

Ketua Pengurus Masjid Al Alam Abdullah Al Hadzah mengatakan pungutan tersebut dinilai sebagai infaq, dilandasi Alquran, sehingga tidak memaksa.

Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Fadli Aksar
Handover
Masjid Al Alam Kendari. Warganet memprotes pungutan infaq wisata religi senilai Rp5.000 di Masjid Al Alam Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Diketahui, pungutan tersebut dikutip kesetiap pengendara mobil yang masuk pintu gerbang masjid yang berdiri di Teluk Kendari tersebut. Tak hanya warganet, pengunjung pun turut merasa keberatan dengan pemberlakuan tarif masuk ke Masjid Al Alam Kendari. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pungutan Rp5 Ribu di Masjid Al Alam Kendari disebut untuk biaya perawatan dan operasional.

Diketahui, pungutan tersebut dikutip kesetiap pengendara mobil yang masuk pintu gerbang masjid yang berdiri di Teluk Kendari tersebut.

Pungutan dikutip di bawah tenda yang berdiri tak jauh dari pintu gerbang masjid yang pembangunannya dirintis mantan Gubernur Sultra Nur Alam tersebut.

Ketua Pengurus Masjid Al Alam Abdullah Al Hadzah mengatakan pungutan tersebut dinilai sebagai infaq, dilandasi Alquran dan agama, sehingga tidak memaksa.

Baca juga: Warganet Protes Infaq Wisata Religi Rp5.000 di Masjid Al Alam Kendari, Dikutip di Pintu Gerbang

"Biaya operasional Masjid Al Alam lumayan banyak Masjid ini semakin hari semakin butuh perawatan," kata Abdullah Al Hadzah saat dihubungi melalui telepon, Selasa (4/5/2021).

Sementara sumber dana yang selama ini kurang, sebab Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) cuma menanggung biaya listrik dan tenaga kebersihan.

"Itupun tidak cukup setahun, saya lupa pastinya, bisa dicek di bendahara, jika tidak salah hanya 8 bulan," katanya.

Sehingga membutuhkan dana tambahan untuk biaya pemeliharaan agar Masjid Al Alam bisa beroperasi.

Pengadaan infaq untuk biaya tambahan ini diadakan sejak pandemi Covid-19.

Lantaran kala itu, terjadi krisis dan tidak ada aktivitas mesjid, menyebabkan saldo menipis, dan tidak ada pemasukan ke kas.

Sehingga pengurus mengambil inisiatif untuk mengadakan infaq kunjungan agar masjid tidak terlantar.

"Memang biaya operasional itu tidak mencukupi karena terjadi pembatasan jamaah," jelasnya.

Dana tersebut diperuntukan untuk biaya keamanan, biaya kebersihan kemudian lain-lain, termasuk alat-alat atau fasilitas di masjid.

"Karena banyak orang itu hampir setiap bulan ada keran air yang diganti, balon diganti, nah itu membutuhkan dana," bebernya.

Kemudian pengurus juga memiliki program untuk menjadikan Masjid Al Alam sebagai suatu destinasi wisata religi, destinasi wisata bahari dan destinasi kuliner Islami.

Untuk mewujudkan hal tersebut, menurutnya memang perlu pengadaan benda-benda modal investasi.

"Jika sudah ada investasi itu, harapannya untuk kembalikan peningkatan pelayanan kepada umat, dan tidak lagi tergantung kepada pemprov," ujarnya.

infaq

Warganet memprotes pungutan infaq wisata religi senilai Rp5.000 di Masjid Al Alam Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Diketahui, pungutan tersebut dikutip kesetiap pengendara mobil yang masuk pintu gerbang masjid yang berdiri di Teluk Kendari tersebut.

(Handover)

Selain itu, dana infaq ini akan disalurkan untuk menggaji para petugas kemanan dan petugas kebersihan.

Lantaran di Masjid Al Alam tidak sama dengan mesjid lainnya yang berada di pemukiman, sehingga petugas direkrut dan harus digaji.

"Jadi artinya untuk pengamanan masjid ini, tidak bisa kita berbagi dengan jamaah sekeliling. Sepenuhnya kembangkan kepada tenaga tenaga yang kita angkat. Jadi jumlah tenaga di situ itu sekitar 50 orang," ungkapnya.

Ia menegaskan, infaq ini tidak ada paksaan bagi para pengunjung.

"Mau bayar silakan, tidak bayar tidak apa-apa, tidak ada yang maksain namanya infaq tidak ada paksaan kan," tegasnya.

Baca juga: Pengunjung Masjid Al Alam Kendari Keberatan Pungutan Infaq Rp5 Ribu, Apalagi Jika Tidak Transparan

Ia berharap jangan karena satu orang tidak mau bayar, maka melarang orang lain untuk beramal.

Tapi kalau seperti ini saya pikir semua warga mempunyai hak berkunjung wisata religi masjid kebanggaan Sulawesi tenggara," katanya.

Pengunjung Keberatan

Pengunjung Masjid Al Alam Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) keberatan dengan infaq Rp5 ribu.

Hal itu diutarakan Salim (41), katanya belum mendapat penjelasan soal penerapan infaq masuk ke wisata religi tersebut.

Kata Salim, Infaq boleh saja diberlakukan asalkan menginformasikan terlebih dahulu kepada pengunjung soal dasar pemberlakuaan dan peruntukannya.

Jika hal itu tidak jelas, maka pungutan senilai Rp5 ribu itu bisa menimbulkan isu dan pandangan negatif.

"Keberatan juga kalau ada infaq masuk. Kalau terkoordinir dengan baik misalnya ada peraturan daerah tidak ada masaalah, tidak merasa keberatan," katanya di Masjid Al Alam.

Ia berharap agar hal ini cepat ditanggapi oleh pengurus atau Pemerintah Kota Kendari yang menangani hal terkait.

"Tapi kalau seperti ini dikatakan ilegal ya ilegal karena tidak didasari dengan dasar hukumnya, Tidak ada legas standingnya seperti itu," kata Salim.

Ia meminta dana Infaq yang terkumpul harus bisa dipertanggungjawabkan dan diumumkan ke publik peruntukannya.

Protes Warganet

Warganet memprotes pungutan infaq wisata religi senilai Rp5.000 di Masjid Al Alam Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Diketahui, pungutan tersebut dikutip kesetiap pengendara mobil yang masuk pintu gerbang masjid yang berdiri di Teluk Kendari tersebut.

Pungutan dikutip di bawah tenda yang berdiri tak jauh dari pintu gerbang masjid yang pembangunannya dirintis mantan Gubernur Sultra Nur Alam tersebut.

Protes disampaikan warganet melalui salah satu grup Facebook dengan mengunggah potongan karcis berwarna merah muda tersebut.

Postingan diunggah Sunarto Iriyawan Kolomang, beberapa hari lalu.

“Infaq itu sesuai keikhlasan, tapi kenapa eh kenapa ditentukan 5000...,” tulisnya menyertai unggahan foto karcis bertuliskan Infaq Kunjungan Wisata Religi tersebut.

Pada bagian kop karcis bertuliskan Masjid Al Alam Kendari, Kompleks Masjid Al Alam Kendari disertai alamat email alamkendari@yahoo.com.

Tertera pula nilai Rp5.000 disertai tulisan 'hanya berlaku untuk satu kali kunjungan'.

Pada bagian bawah karcis, tertera tulisan tanggal masuk tapi tanpa disertai tulisan tanggal bulan maupun tahunnya.

Potongan karcis tersebut tanpa dibubuhi stempel maupun nomor.

Unggahan tersebut mengundang reaksi pro dan kontra warganet.

Hingga Selasa (04/05/2021), postingan sudah dikomentari 193 kali.

“Assalamu'alaikum wr.wb.. Untuk tidak salah menafsirkan dan menduga duga atau pake jangan jangan alangkah baiknya datang di sekertariat masjid al alam dan menanyakan secara langsung sekaligus mendapatkan jawaban secara rinci..insya allah akan mendapatkan jawaban setelah itu bisa mengambil kesimpulan,” tulis akun Opi Parasi mengomentari unggahan tersebut.

Baca juga: Jalan Menuju Masjid Al Alam Diklaim Amblas, Bakal Diperbaiki Pakai Dana Bencana di BPBD

Sejumlah warganet ikut mempertanyakan infaq wisata religi tersebut.

“Seharusnya ada nomor seri dan stempel,” tulis akun Alam Tonga.

“Berlaku stiap malam infak 5000??,” tanya akun Azcty Rahman.

“Harus diusut dan diperjelas aturannya demi kenyamanan kita bersama,” komentar akun Al Ghifari Abdzr.

Hingga saat ini, TribunnewsSultra.com masih mengupayakan konfirmasi ke pihak pengurus Masjid Al Alam Kendari.(*)

(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved