Breaking News:

Partai Ummat

Partai Ummat Butuh Figur Lokal di Sultra, Isu Harus Kongkrit Jangan Agama Jadi Ideologi

Menurut pengajar Ilmu Politik FISIP UHO Kendari, Prof Eka Suaib, Partai Ummat perlu figur sentral jika ingin bersaing sebagai pendatang baru.

Penulis: Risno Mawandili | Editor: Risno Mawandili
Handover
Prof Eka Suaib 

TRIBUNNEWSULTRA.COM,KENDARI - Kepengurusan Partai Ummat mulai terbentuk di Sulawesi Tenggara (Sultra). Bahkan sudah diusung Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Ummat Sultra

Secara nasional partai politik (Parpol) besutan Amien Rais ini telah menarget peringkat ke-3 Pemilu 2024.  

Partai bernuansa islami ini akan akan mengiris basis atau konstituen Parpol Islam lain seperti Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 

Baca juga: TPPPU Sultra : Kader Partai Ummat Harus Memiliki Keteladanan dan Politik yang Santun

Baca juga: Partai Ummat Iris Konsituen Basis Islam, Peringatan Buat PAN, PPP, PKB, PBB & PKS di Sultra

Baca juga: TPPPU : Partai Ummat Menerima Kader Dari Latar Belakang Agama Manapun

Menurut pengajar Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Prof Eka Suaib, Partai Ummat perlu figur lokal jika ingin bersaing sebagai pendatang baru. 

"Sangat tergantung siapa figur lokal yang diusung," ujar Eka Suaib lewat pesan singkat, Minggu (2/5/2021).

Ketua Asosiasi Ilmu Politik (AIPI) Kota Kendari mengatakan, figur sentral yang diusung dapat memberi pengaruh pada perolehan suara. 

"Untuk meraih simpati maka kinerja perlu untuk maksimal, apalagi sebagai Parpol baru. Konsolidasi perlu massif dengan ditopang oleh figur lokal yang cukup mumpuni," jelasnya.

Pada tingkat nasional, Partai Ummat lekat dengan nama Amien Rais. Figur lokal kuat juga harus diusung agar Partai Ummat di Sultra dapat bersaing. 

Ia menjabarkan, Partai Ummat tak akan menjadi pesaing ketat di Sultra jika hanya bertumpu pada Amien Rais. 

"Persoalannya, kadang Amien Rais kadang 'terlalu maju' pemikirannya. Padahal pemilihnya masih konvensional. Jadi ada jarak antara konstituen dengan figurnya," urainya. 

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved