Breaking News:

3 Remaja di Buton Disiksa Polisi Dipaksa Akui Mencuri, Jadi Tersangka Sehari Sebelum Diperiksa

BAP itu dibuat penyidik Kepolisian Sektor (Polsek) Sampoabalo, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton, Provinsi (Sultra).

Penulis: Risno Mawandili | Editor: Fadli Aksar
(Risno Mawandili/TribunnewsSultra.com)
Kuasa Hukum remaja diduga disiksa penyidik, La Ode Abdul Faris, menerangkan kejanggalan BAP Polsek Sampoabalo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, ditemui di Kota Kendari, Jumat (16/4/2021) malam. 

Ketiganya dituduh mencuri di rumah seorang kepala sekolah menengah pertama (SMP) bernama Saharuddin.

Saharuddin melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sampoabalo pada (1/12/2020).

Tiga orang ini dituduh mencuri, telah mencongkel jendela depan Saharuddin pada Kamis 24 Desember 2020 malam hari.

Gerombolan pencuri itu menilep 1 laptop merek Asus tipe Core i5 warna silver, 1 laptop merek Lenovo tipe Core i5 warna hitam, dan 1 handphone merk OPPO A 11 warna hitam.

Selain itu, 1 handphone merk OPPO A 11 warna biru, 1 hardisk warna hitam, dan uang tunai sekitar Rp100 juta.

Namun dalam laporan polisi Dalam laporan Polisi nomor 01/1/2021/SULTRA/RESBUTON/SPK SEK, Saharuddin mengaku, tidak melihat dan tidak mengetahui siapa pelaku pencurian.

Saharuddin baru tahu pelaku berjumlah tiga orang setelah polisi menangkap Angga, La Niki dan Muslimin. 

Menurut kuasa hukum tiga tertuduh pencuri itu, Abdul Faris, penyidik Polsek Sampoabalo melakukan tindak kekerasan saat menginterogasi.

Angga, La Niki, dan Muslimin, dipukul, ditodong senjata api, dan dipaksa mengaku telah mencuri di rumah Saharudin.

“Terjadilah perbuatan penganiayaan kepada Angga, La Niki, dan Muslimin. Dia dipukul, diancam, ditodongkan pistol hanya untuk mengaku sebagai pencuri,” kata Fariz melalui panggilan telepon, Rabu (14/4/2021).

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved