Breaking News:

Berita Sultra Terkini Hari Ini

Aduan Pencemaran Nama Baik Melalui Medsos Masih Mendominasi di Polda Sultra 

Tercatat untuk triwulan pertama di 2021, pengaduan kasus dugaan pencematan nama baik melalui media sosial sudah sebanyak 47 persen.

Handover
Markas Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI- Kasus pencemaran nama baik melalui media sosial atau medsos masih mendominasi di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tercatat untuk triwulan pertama di 2021, pengaduan kasus dugaan pencematan nama baik melalui media sosial sudah sebanyak 47 persen.

Baca juga: Virtual Police Mulai Beraksi, Sudah Ada Akun Medsos Pelanggar UU ITE Terjaring Razia Polisi Virtual

Data tersebut sejak Januari hingga Maret 2021 yang ditangani  Subdit V Tindak Pidana Siber (Tipidsiber) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sulaweso Tenggara (Sultra).

Sementara kasus lain yakni penipuan online 23%, pengambil alihan akun medsos oleh orang tak dikenal 11%, pengancaman dan atau pemerasan 6%, penyebaran konten asusila 2% dan terakhir ujaran kebencian/isu sara 1%.

Baca juga: Sebut Autopsi Harus Tingkat Penyidikan, Polda Sultra Diminta Belajar Hukum

Untuk 2020 jumlah kasus yang sama ditangani Tipidsiber Polda mencapai 235 aduan untuk pencemaran nama baik, penipuan melalui media online 61 kasus, penyebaran konten pornografi dan pemerasan/pengancaman sebanyak 11 kasus.

Penyebaran berita bohong/hoax dan Isu sara 10 kasus, serta pengambilalihan atau pembajakan akun medsos oleh orang tak dikenal sebanyak 4 kasus.

Data pengaduan tindak pidana melalui media sosial atau digital yang ditangani Subdit Tipisiber Ditreskrimsus Polda Sultra.
Data pengaduan tindak pidana melalui media sosial atau digital yang ditangani Subdit Tipisiber Ditreskrimsus Polda Sultra. (Istimewa)

Baca juga: Kapolda Sultra Demosi Sejumlah Personel Gegara Melanggar Kode Etik Kepolisian

Menurut Kasubdit V Tipidsiber Dit Reskrimsus Polda Sultra Kompol Muhammad Fahroni, maraknya kasus seperti pencemaran nama baik melalui media sosial dan media digital karena masyarakat kurang bijak dalam bermedia sosial.

"Hal tersebut merupakan bagian dampak dari kemajuan teknologi dan informasi dan pesatnya perkembangan media sosial yang kini telah menjadi jati diri kedua para penggunanya," jelas Fahroni, Rabu (14/04/2021).     

Dalam menangani kasus tersebut, penegakan hukum mengedepankan restorative justice yakni penyelesian dengan melibatkan seluruh pihak dari pelaku maupun korban seperti yang telah dilaksanakan oleh Subdit V Tipidsiber dalam setiap penanganan perkara laporan pengaduan masyarakat.

"Mulai tahap lidik kita upayakan mediasi, sidik mediasi lagi, hingga ketahap JPU kita mediasi," ujar Sahroni.

Lebih lanjut Kompol Fahroni menjelaskan, beberapa diantara perkara laporan pengaduan masyarakat terkait dengan pencemaran nama baik telah diselesaikan dengan proses mediasi. (*)

Penulis: Laode Ari
Editor: Laode Ari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved